Di sebuah kompeks perumahan Tralala Trilili,
Fika dan keluarganya membeli rumah untuk bertempat tinggal di sana. Fika dan
keluarganya awalnya berasal dari Bogor karena orangtua Fika mendapat pekerjaan
di luar Bogor, keluarga Fika sepakat untuk pindah ke Bandar Lampung tempat
dimana orangtua Fika mendapat pekerjaan. Saat hendak membereskan baju-baju yang
ada di dalam tas, Ayin tetangga depan rumah Fika datang dan ingin berkenalan,
suasana pun begitu akrab saat pertemuan pertama Fika dengan teman barunya. Saat
itu usia Fika enam tahun dan Ayin berumur lima tahun. Meski berbeda umur Ayin
sangat pemberani dan sangat lincah, Ayin mengajak Fika ke tetangga belakang
rumah Fika, saat ingin di kenalkan Fika sangat malu-malu karena Fika sendiri
sebelum pindah Fika tidak pernah memiliki teman sebaya di kompeks rumahnya dulu.
Ayin yang melihat Fika malu-malu langsung mengambil tangan Fika dan bersalaman
dengan Lyla. Awalnya saat kedatangan Fika, Lyla terlihat sangat bingung karena
sebelumnya dia tidak pernah melihat Fika di kompeksnya. Karena suasana begitu
canggung Fika akhirnya memberanikan diri untuk berbica terlebih dahulu, saat
Fika mencoba menanyakan umur ke Lyla, Lyla menjawabnya begitu lembut, dan Lyla
menjawab umur dia tujuh tahun. Sesudah berbicara sedikit lama Fika bisa berbaur
dengan teman-temannya yang barunya.
Besok harinya Ayin datang kembali ke rumah Fika dan seperti biasa Ayin mengajak Fika bermain, Ayin mengajak Fika ke luar rumah Fika dan kali ini bukan untuk pergi ke rumah Lyla melainkan ketetangga samping kiri rumah Fika.Wajah Fika pun berubah bingung dan bertanya kepada Ayin”Ayin bukannya samping rumah kakak tidak ada penghuninya?”Ayin menjawab dengan polos”ada kak, cuma kemaren kakak Syla lagi pergi ke Bandung ke rumah kakeknya. Dan hari ini baru datang, makanya aku ajak kakak ke kakak Syla” Karena ajakan Ayin, Fika memutuskan menuruti dan Fika juga penasaran dengan tetangga samping rumahnya itu. Saat awal melihat Syla, Fika tidak suka dengan sifatnya yang kasar dan nada bicaranya yang ketus dengan Ayin. Tapi saat melihat Fika, Syla langsung menghampiri dan langsung bertanya”Tetangga baru ya? Namanya siapa?” Karena Fika bertatapan langsung, Fika menjawabnya dengan nada malas. Selesai menjawab Fika langsung bertanya kepada Syla mengapa dia berbicara kasar dengan Ayin. Syla menjawabnya dengan santai “Tidak ah, biasa aja dan memang gitu cara bicara aku, ya sudah lupakan mending kita main ke tempat Lyla saja bosan banget ”Karena ajakan Syla mereka menuju rumah Lyla dan melupakan kejadian yang tadi.
Saat sampai di rumah Lyla, mereka bermain bersama–sama, mereka bermain boneka, rumah-rumahan dan bermain petak umpet. Karena kelelahan bermain mereka berempat beristirahat di kamar Lyla, mama Lyla mengajak mereka makan nasi goreng buatannya. Mereka langsung menuju meja makan dan menghabiskan nasi goreng dengan lahap. Mama Lyla juga membuatkan sirup yang di isi air es yang membuat mereka bertambah segar dan mengucapkan terima kasih karena telah di sambut hangat oleh mama Lyla. Dan di saat itu juga mereka merasakan kedekatan dan kehangatan bersama–sama. Setelah selesai makan Syla mengajak mereka ke batu besar .awalnya Fika tidak mengerti maksudnya tetapi Fika hanya mengikuti saja ke mana teman-temannya pergi. Saat sampai ke batu besar yang di maksud Syla, Fika mengerti sekarang di sana mereka bisa menikmati angin yang sepoi-sepoi dan berbagi cerita-cerita lucu dan pengalaman mereka sendiri dan sebelum bersama Fika. Dari situlah mereka merasakan kebersamaan dan kenyamanan satu dengan yang lain dan mereka jadikan tempat itu menjadi tempat favorit mereka dan berkumpul bersama. Selesai bermain bersama mereka pulang karena hari sudah sore yang menunjukan jam lima dan mereka melanjutkan aktivitas masing-masing di rumah mereka. Fika merasa hari itu hari yang penuh makna di mana merasa kehadirannya di terima oleh lingkungan barunya.
Tak terasa sebelas tahun sudah terlewati, sedih kecewa dan bahagia mereka rasakan bersama dan itu membuat persahabatan mereka semakin kuat. Fika bahagia karena bisa menjaga hubungan yang lama dengan sahabat-sahabatnya itu yang memiki kareakter yang berbeda-beda yang bagi Fika suatu keunikan. Fika tersadar dari lamunannya saat mamanya memanggil, ternyata Fika sudah sampai rumah. Sebelumya Fika di suruh mamanya membeli telor di warung untuk persediaan di rumah. Saat hendak masuk rumah Syla datang dan mengajaknya pergi ke toko kaset untuk meminjam film yang lagi popular saat ini. Tapi Fika menolaknya karena mamanya menyuruh mandi dan membantu mamanya untuk menyiapkan makan malam.Syla yang ,mendengarkan alasan itu menerimanya meski harus kecewa karena Fika tidak bisa menemaninya. Syla yang melihat Ayin keluar dari rumah tetangga samping Fika juga langsung memanggilnya. Syla mengajak Ayin untuk menemainya ke toko kaset, karena di lihatnya masih jam empat sore Ayin setuju untuk menemaninya. Selesai meminjam kaset, mereka langsung menuju ke parkiran untuk megambil motor Syla, di pertengahaan jalan kaset yang Syla titipkan ke Ayin jatuh di jalan raya dan saat ingin di ambil lewat mobil Innova yang melindas kaset itu hingga kaset itu sudah tidak berbentuk. Syla sangat terkejut dan marah ke Ayin karena Ayin sangat ceroboh memegang kaset itu hingga jatuh. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Syla mendiamkan Ayin sampai kompleks perumahannya. Ayin yang merasa bersalah meminta maaf terus menerus dan memnita agar masalah ini jangan sampai di dengar oleh orangtuanya. Tetapi Syla mengabaikan Ayin dan meninggalkannya di depan rumahnya. Karena Ayin tahu Syla tidak akan keluar lagi dari rumahnya, Ayin menuju rumahnya dan sampai di rumah Ayin masuk ke kamarnya, saat di kamarnya Ayin menangis sambil menahan suara tangisannya.
Saat itu semua sekolah libur karena enam hari lagi mereka akan menyambut tutup tahun. Karena libur pagi-pagi Ayin datang ke rumah Fika dan menceritakan kejadian yang menimpah dirinya kemarin. Fika mendengarkan cerita Ayin dengan serius dan meminta Ayin sabar dan tenang untuk mengatasi masalah yang di hadapinya. Karena mereka tahu, Syla memiliki sifat yang mudah sekali marah, Fika berfikir sejenak dan Fika merasa tidak bisa di selesaikan berdua dengan Ayin, Fika memutuskan untuk ke rumah Lyla karena siapa tahu Lyla dapat memberi solusi. Setelah ke tempat Lyla dan menceritakan kejadian yang menimpah Ayin, Lyla sedikit terkejut dan meminta agar semuanya tenang dan di selesaikan dengan kepala dingin. Setelah lama untuk mencari jalan keluar permasalahan Ayin dengan Syla, Lyla dan Fika mendapatkan solosi. Lyla dan Fika menyuruh Ayin tetap di kamar Lyla sedangkan Lyla dan Fika ke rumah Syla. Ayin setuju karena dia ingin masalah ini segera selesai. Lyla dan Fika menuju rumah Syla, sampai di rumah Syla, mereka bertemu langsung dengan Syla dan mengajaknya ke rumah Lyla. Awalnya saat dia ajak Syla memiliki banyak alasan untuk menolak ikut dengan mereka karena Syla masih merasa kesal atas kejadian kemaren. Karena Lyla dan Fika tak kunjung pergi, Syla setuju dan langsung ikut menuju rumah Lyla, saat samapai Syla yang tidak tahu Ayin ada di rumah Lyla sangat terkejut dan marah sambil berteriak, karena Lyla dan Fika tidak mengatakan Ayin ada di sana. Syla yang ingin pulang di halang oleh Lyla, Syla ingin marah tetapi amarahnya meredah saat mama Lyla menghampiri dirinya dan menasehati, Syla akhirnya mengikuti Lyla karena tangan Syla di pegang oleh Lyla.
Mereka berkumpul di kamar, Fika dan Lyla meminta agar mereka saling meminta maaf dan bersaliman .Ayin yang merasa bersalah meminta maaf terlebih dahulu tapi Syla mengabaikannya dan pura-pura tidak mendengarkannya. Ayin yang tidak sanggup lagi dengan prilaku Syla mengeluarkan air mata dan menagis. Fika dan Lyla meminta Syla untuk tidak bersikap egois. Fika yang tidak tahan dengan sikap Syla mengatakan ke Syla”Kak Sylakan lebih tua dari kita, seharusnya kakak bisa bersikap lebih dewasa dan jangan seperti anak kecil, kita tahu Ayin salah tapi ini kita bisa selesaikan dengan baik-baik” Karena teguran dari Fika Syla sedikit tersinggung tapi sadar akan sifatnya yang sangat terkanak-kanakan, Syla melihat Ayin dan merasa sudah keterlaluan memarahinya, menjadi kasihan dan menerima maaf Ayin. Tapi Syla meminta agar Ayin juga bertanggungjawab atas rusaknya kaset pinjamannya. Karena semuanya sudah merasa lebih baikan, Lyla mendapatkan solusi agar kaset itu bisa di gantikan, Lyla meminta agar mereka menyisikan uang tabungan mereka untuk menggantikan kaset itu. Mereka setuju atas solosi yang di berikan dan mereka sadar semua masalah pasti ada solusi yang terbaik tanpa harus menyalahkan satu sama lain. Dari masalah itu juga mereka mengerti sahabat itu adalah tempat dimana saat menyelesaikan masalah tempat yang membentuk karakter, tempat yang membawa diri mereka mengerti akan hidup yang penuh warna warni yang terpenting sahabat bagi mereka adalah kesatuan hati bagaimana menyatukan perbedaan itu tanpa harus melukai hati.
Tiga hari sudah berlalu permasalahan Syla dan Ayin, kini mereka di kejutkan oleh Syla yang tiba-tiba harus pergi ke Jakarta tanpa memberi kabar terlebih dahulu ke sahabat-sahabatnya. Fika yang sebelumnya lagi ke pasar untuk membeli kue untuk persiapan tahun baru bersama Ayin dan Lyla di telepon oleh mamanya dan memberi tahu kalau Syla mau ke Jakarta, mereka langsung memutuskan pulang dan bertemu Syla. Tapi mereka terlambat, Syla menitipkan surat ke mama Fika yang isinya membuat mereka menagis”Buat sahabat-sahabatku ,aku minta maaf karena aku tidak memberi kabar ke kalian kalau aku harus ke Jakarta. Aku di Jakarta akan tinggal tetap dan melanjutkan kuliah aku di sana.Aku tidak ingin kalian salah paham karena orangtuaku tadi malam mendadak memberi tahu aku kalau hari ini aku akan pindah. Aku pindah bukan kemauan aku tetapi aku pindah karena permintaan keluargaku. Aku janji aku akan temui kalian tapi aku mohon jangan pernah kalian membenci aku karena kepergian aku ini yang secara tiba-tiba.”Melihat isi surat itu mereka menangis dan berpelukan.
Tahun baru yang mereka rasakan seakan tak berarti dan kebersamaan itu juga terasa menghilang saat kepergian Syla. Fika orang yang paling dekat dengan Syla merasa terpukul karena sampai sekarang ini dia tidak mendapatkan kabar mengenai Syla. Hari-hari Fika jalani seperti biasa, Fika sadar akhir-akhir ini jarang sekali bertemu dengan Lyla maupun Ayin, saat ingin bertemu selalu saja alasan yang berupa tolakan yang di dapatkan. Tujuh bulan sudah kepergian Syla, Fika selalu berharap kalau Syla memberi kabar dan Fika ingin bercerita kalau Lyla dan Ayin sedikit menghindar darinya, tapi itu semua menurut Fika hanyalah mimpi. Tiga hari lagi adalah ulang tahun Fika, harapan Fika sahabat-sahabatnya tidak lupa akan ulang tahun dirinya. Tapi Fika menagis karena Fika tahu sahabat-sahabatnya pasti lupa karena sekarang mereka sanagt renggang untuk berkomunikasi saja sangat sulit sekali.
Ayin dan Lyla menghidar terlalu lama ternyata sengaja untuk memberikan pesta kejutan spesial buat Fika. Mereka melakukan ini karena Fika memasuki umur tujuh belas tahun yang di mana Fika tunggu-tunggu dan berharap umur tujuh belas tahun bisa merayakannya bersama teman-temannya. Ayin dan Lyla menyewa gedung yang cukup mahal untuk kapasitas seratus lima puluh orang, dan itu khusus teman-teman dan keluarga mereka sendiri. Mereka mengumpulkan uang jajan mereka dan menjual barang-barang hasil kreatifitas mereka dan hasilnya cukup banyak sehingga mereka mampu menyewa dan mendekor gedung itu semewah mukin. Mereka juga sudah membelikan gaun untuk Fika memakainya. Setelah semua merasa sempurna mereka menunggu samapai tanggal ulang tahun Fika baru tidak menjauhi Fika. Mereka berharap semoga acara yang mereka buat sukses untuk membuat Fika bahagia.
Fika bangun dari tidurnya ,hari itu dia merasa tidak semangat karena dia tidak melihat satupun pesan di handphonenya dari sahabat-sahabatnya.Tapi tiba-tiba saja hendak ingin ke kamar mandi Fika mendapat telepon dari nomor yang tidak di ketahui”Happy birthday Fika happy birthday Fika happy birthday happy birthday happy birthday to you, haaiii.. Fika happy birthday wish you all the best, love you masih ingetkan sama aku, aku Syla sekarang aku ada di Lampung aku ingin bertemu kalian dan merayakan ulang tahun kamu”Fika yang mendengarkan sangat terkejut dan merasa senang dan menjawabnya”Kakak terima kasih banyak,aku kira kakak lupa, aku akan datang dan bertemu kakak tapi dimana kita bertemu? Lyla dan Ayin mereka sudah tahu? Syla secepat mungkin menjawab”Ia sama-sama ,mereka sudah aku kasih tahu kalau aku ada di Lampung, dan mereka akan jemput kamu di rumah jam enam sore jadi kamu harus siap-siap untuk pergi dan harus mau kemana aja mereka ajak kamu, di tunggu yah, bye”.
Besok harinya Ayin datang kembali ke rumah Fika dan seperti biasa Ayin mengajak Fika bermain, Ayin mengajak Fika ke luar rumah Fika dan kali ini bukan untuk pergi ke rumah Lyla melainkan ketetangga samping kiri rumah Fika.Wajah Fika pun berubah bingung dan bertanya kepada Ayin”Ayin bukannya samping rumah kakak tidak ada penghuninya?”Ayin menjawab dengan polos”ada kak, cuma kemaren kakak Syla lagi pergi ke Bandung ke rumah kakeknya. Dan hari ini baru datang, makanya aku ajak kakak ke kakak Syla” Karena ajakan Ayin, Fika memutuskan menuruti dan Fika juga penasaran dengan tetangga samping rumahnya itu. Saat awal melihat Syla, Fika tidak suka dengan sifatnya yang kasar dan nada bicaranya yang ketus dengan Ayin. Tapi saat melihat Fika, Syla langsung menghampiri dan langsung bertanya”Tetangga baru ya? Namanya siapa?” Karena Fika bertatapan langsung, Fika menjawabnya dengan nada malas. Selesai menjawab Fika langsung bertanya kepada Syla mengapa dia berbicara kasar dengan Ayin. Syla menjawabnya dengan santai “Tidak ah, biasa aja dan memang gitu cara bicara aku, ya sudah lupakan mending kita main ke tempat Lyla saja bosan banget ”Karena ajakan Syla mereka menuju rumah Lyla dan melupakan kejadian yang tadi.
Saat sampai di rumah Lyla, mereka bermain bersama–sama, mereka bermain boneka, rumah-rumahan dan bermain petak umpet. Karena kelelahan bermain mereka berempat beristirahat di kamar Lyla, mama Lyla mengajak mereka makan nasi goreng buatannya. Mereka langsung menuju meja makan dan menghabiskan nasi goreng dengan lahap. Mama Lyla juga membuatkan sirup yang di isi air es yang membuat mereka bertambah segar dan mengucapkan terima kasih karena telah di sambut hangat oleh mama Lyla. Dan di saat itu juga mereka merasakan kedekatan dan kehangatan bersama–sama. Setelah selesai makan Syla mengajak mereka ke batu besar .awalnya Fika tidak mengerti maksudnya tetapi Fika hanya mengikuti saja ke mana teman-temannya pergi. Saat sampai ke batu besar yang di maksud Syla, Fika mengerti sekarang di sana mereka bisa menikmati angin yang sepoi-sepoi dan berbagi cerita-cerita lucu dan pengalaman mereka sendiri dan sebelum bersama Fika. Dari situlah mereka merasakan kebersamaan dan kenyamanan satu dengan yang lain dan mereka jadikan tempat itu menjadi tempat favorit mereka dan berkumpul bersama. Selesai bermain bersama mereka pulang karena hari sudah sore yang menunjukan jam lima dan mereka melanjutkan aktivitas masing-masing di rumah mereka. Fika merasa hari itu hari yang penuh makna di mana merasa kehadirannya di terima oleh lingkungan barunya.
Tak terasa sebelas tahun sudah terlewati, sedih kecewa dan bahagia mereka rasakan bersama dan itu membuat persahabatan mereka semakin kuat. Fika bahagia karena bisa menjaga hubungan yang lama dengan sahabat-sahabatnya itu yang memiki kareakter yang berbeda-beda yang bagi Fika suatu keunikan. Fika tersadar dari lamunannya saat mamanya memanggil, ternyata Fika sudah sampai rumah. Sebelumya Fika di suruh mamanya membeli telor di warung untuk persediaan di rumah. Saat hendak masuk rumah Syla datang dan mengajaknya pergi ke toko kaset untuk meminjam film yang lagi popular saat ini. Tapi Fika menolaknya karena mamanya menyuruh mandi dan membantu mamanya untuk menyiapkan makan malam.Syla yang ,mendengarkan alasan itu menerimanya meski harus kecewa karena Fika tidak bisa menemaninya. Syla yang melihat Ayin keluar dari rumah tetangga samping Fika juga langsung memanggilnya. Syla mengajak Ayin untuk menemainya ke toko kaset, karena di lihatnya masih jam empat sore Ayin setuju untuk menemaninya. Selesai meminjam kaset, mereka langsung menuju ke parkiran untuk megambil motor Syla, di pertengahaan jalan kaset yang Syla titipkan ke Ayin jatuh di jalan raya dan saat ingin di ambil lewat mobil Innova yang melindas kaset itu hingga kaset itu sudah tidak berbentuk. Syla sangat terkejut dan marah ke Ayin karena Ayin sangat ceroboh memegang kaset itu hingga jatuh. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Syla mendiamkan Ayin sampai kompleks perumahannya. Ayin yang merasa bersalah meminta maaf terus menerus dan memnita agar masalah ini jangan sampai di dengar oleh orangtuanya. Tetapi Syla mengabaikan Ayin dan meninggalkannya di depan rumahnya. Karena Ayin tahu Syla tidak akan keluar lagi dari rumahnya, Ayin menuju rumahnya dan sampai di rumah Ayin masuk ke kamarnya, saat di kamarnya Ayin menangis sambil menahan suara tangisannya.
Saat itu semua sekolah libur karena enam hari lagi mereka akan menyambut tutup tahun. Karena libur pagi-pagi Ayin datang ke rumah Fika dan menceritakan kejadian yang menimpah dirinya kemarin. Fika mendengarkan cerita Ayin dengan serius dan meminta Ayin sabar dan tenang untuk mengatasi masalah yang di hadapinya. Karena mereka tahu, Syla memiliki sifat yang mudah sekali marah, Fika berfikir sejenak dan Fika merasa tidak bisa di selesaikan berdua dengan Ayin, Fika memutuskan untuk ke rumah Lyla karena siapa tahu Lyla dapat memberi solusi. Setelah ke tempat Lyla dan menceritakan kejadian yang menimpah Ayin, Lyla sedikit terkejut dan meminta agar semuanya tenang dan di selesaikan dengan kepala dingin. Setelah lama untuk mencari jalan keluar permasalahan Ayin dengan Syla, Lyla dan Fika mendapatkan solosi. Lyla dan Fika menyuruh Ayin tetap di kamar Lyla sedangkan Lyla dan Fika ke rumah Syla. Ayin setuju karena dia ingin masalah ini segera selesai. Lyla dan Fika menuju rumah Syla, sampai di rumah Syla, mereka bertemu langsung dengan Syla dan mengajaknya ke rumah Lyla. Awalnya saat dia ajak Syla memiliki banyak alasan untuk menolak ikut dengan mereka karena Syla masih merasa kesal atas kejadian kemaren. Karena Lyla dan Fika tak kunjung pergi, Syla setuju dan langsung ikut menuju rumah Lyla, saat samapai Syla yang tidak tahu Ayin ada di rumah Lyla sangat terkejut dan marah sambil berteriak, karena Lyla dan Fika tidak mengatakan Ayin ada di sana. Syla yang ingin pulang di halang oleh Lyla, Syla ingin marah tetapi amarahnya meredah saat mama Lyla menghampiri dirinya dan menasehati, Syla akhirnya mengikuti Lyla karena tangan Syla di pegang oleh Lyla.
Mereka berkumpul di kamar, Fika dan Lyla meminta agar mereka saling meminta maaf dan bersaliman .Ayin yang merasa bersalah meminta maaf terlebih dahulu tapi Syla mengabaikannya dan pura-pura tidak mendengarkannya. Ayin yang tidak sanggup lagi dengan prilaku Syla mengeluarkan air mata dan menagis. Fika dan Lyla meminta Syla untuk tidak bersikap egois. Fika yang tidak tahan dengan sikap Syla mengatakan ke Syla”Kak Sylakan lebih tua dari kita, seharusnya kakak bisa bersikap lebih dewasa dan jangan seperti anak kecil, kita tahu Ayin salah tapi ini kita bisa selesaikan dengan baik-baik” Karena teguran dari Fika Syla sedikit tersinggung tapi sadar akan sifatnya yang sangat terkanak-kanakan, Syla melihat Ayin dan merasa sudah keterlaluan memarahinya, menjadi kasihan dan menerima maaf Ayin. Tapi Syla meminta agar Ayin juga bertanggungjawab atas rusaknya kaset pinjamannya. Karena semuanya sudah merasa lebih baikan, Lyla mendapatkan solusi agar kaset itu bisa di gantikan, Lyla meminta agar mereka menyisikan uang tabungan mereka untuk menggantikan kaset itu. Mereka setuju atas solosi yang di berikan dan mereka sadar semua masalah pasti ada solusi yang terbaik tanpa harus menyalahkan satu sama lain. Dari masalah itu juga mereka mengerti sahabat itu adalah tempat dimana saat menyelesaikan masalah tempat yang membentuk karakter, tempat yang membawa diri mereka mengerti akan hidup yang penuh warna warni yang terpenting sahabat bagi mereka adalah kesatuan hati bagaimana menyatukan perbedaan itu tanpa harus melukai hati.
Tiga hari sudah berlalu permasalahan Syla dan Ayin, kini mereka di kejutkan oleh Syla yang tiba-tiba harus pergi ke Jakarta tanpa memberi kabar terlebih dahulu ke sahabat-sahabatnya. Fika yang sebelumnya lagi ke pasar untuk membeli kue untuk persiapan tahun baru bersama Ayin dan Lyla di telepon oleh mamanya dan memberi tahu kalau Syla mau ke Jakarta, mereka langsung memutuskan pulang dan bertemu Syla. Tapi mereka terlambat, Syla menitipkan surat ke mama Fika yang isinya membuat mereka menagis”Buat sahabat-sahabatku ,aku minta maaf karena aku tidak memberi kabar ke kalian kalau aku harus ke Jakarta. Aku di Jakarta akan tinggal tetap dan melanjutkan kuliah aku di sana.Aku tidak ingin kalian salah paham karena orangtuaku tadi malam mendadak memberi tahu aku kalau hari ini aku akan pindah. Aku pindah bukan kemauan aku tetapi aku pindah karena permintaan keluargaku. Aku janji aku akan temui kalian tapi aku mohon jangan pernah kalian membenci aku karena kepergian aku ini yang secara tiba-tiba.”Melihat isi surat itu mereka menangis dan berpelukan.
Tahun baru yang mereka rasakan seakan tak berarti dan kebersamaan itu juga terasa menghilang saat kepergian Syla. Fika orang yang paling dekat dengan Syla merasa terpukul karena sampai sekarang ini dia tidak mendapatkan kabar mengenai Syla. Hari-hari Fika jalani seperti biasa, Fika sadar akhir-akhir ini jarang sekali bertemu dengan Lyla maupun Ayin, saat ingin bertemu selalu saja alasan yang berupa tolakan yang di dapatkan. Tujuh bulan sudah kepergian Syla, Fika selalu berharap kalau Syla memberi kabar dan Fika ingin bercerita kalau Lyla dan Ayin sedikit menghindar darinya, tapi itu semua menurut Fika hanyalah mimpi. Tiga hari lagi adalah ulang tahun Fika, harapan Fika sahabat-sahabatnya tidak lupa akan ulang tahun dirinya. Tapi Fika menagis karena Fika tahu sahabat-sahabatnya pasti lupa karena sekarang mereka sanagt renggang untuk berkomunikasi saja sangat sulit sekali.
Ayin dan Lyla menghidar terlalu lama ternyata sengaja untuk memberikan pesta kejutan spesial buat Fika. Mereka melakukan ini karena Fika memasuki umur tujuh belas tahun yang di mana Fika tunggu-tunggu dan berharap umur tujuh belas tahun bisa merayakannya bersama teman-temannya. Ayin dan Lyla menyewa gedung yang cukup mahal untuk kapasitas seratus lima puluh orang, dan itu khusus teman-teman dan keluarga mereka sendiri. Mereka mengumpulkan uang jajan mereka dan menjual barang-barang hasil kreatifitas mereka dan hasilnya cukup banyak sehingga mereka mampu menyewa dan mendekor gedung itu semewah mukin. Mereka juga sudah membelikan gaun untuk Fika memakainya. Setelah semua merasa sempurna mereka menunggu samapai tanggal ulang tahun Fika baru tidak menjauhi Fika. Mereka berharap semoga acara yang mereka buat sukses untuk membuat Fika bahagia.
Fika bangun dari tidurnya ,hari itu dia merasa tidak semangat karena dia tidak melihat satupun pesan di handphonenya dari sahabat-sahabatnya.Tapi tiba-tiba saja hendak ingin ke kamar mandi Fika mendapat telepon dari nomor yang tidak di ketahui”Happy birthday Fika happy birthday Fika happy birthday happy birthday happy birthday to you, haaiii.. Fika happy birthday wish you all the best, love you masih ingetkan sama aku, aku Syla sekarang aku ada di Lampung aku ingin bertemu kalian dan merayakan ulang tahun kamu”Fika yang mendengarkan sangat terkejut dan merasa senang dan menjawabnya”Kakak terima kasih banyak,aku kira kakak lupa, aku akan datang dan bertemu kakak tapi dimana kita bertemu? Lyla dan Ayin mereka sudah tahu? Syla secepat mungkin menjawab”Ia sama-sama ,mereka sudah aku kasih tahu kalau aku ada di Lampung, dan mereka akan jemput kamu di rumah jam enam sore jadi kamu harus siap-siap untuk pergi dan harus mau kemana aja mereka ajak kamu, di tunggu yah, bye”.
Fika masih tak percaya masih memengang handphonenya,
Fika berlari ke orangtuanya memeluk dan menceritakan kalau Syla ada di Lampung.
Orang tuannya mendengar hal itu senang Fika dan memberi ucapan dan ciuman, awalnya
papanya ingin mengajak makan malam tapi karena tahu kalau anaknya memiliki
acara sendiri papanya membatalkannya dan menggantikannya dengan ucapan syukur
di meja makan dan memotong kue yang sudah di pesan tadi malam oleh mamanya. Fika
merasa bahagia sekali karena dia juga bisa merayakan ulang tahun bersama
orangtuanya,
Saat melihat jam di kamarnya Fika melihat jam masih menunjukan pukul satu siang, Fika menyempatkan diri mandi selama mungkin dan setelah selesai mandi dan siap-siap, Fika melihat masih jam tiga, Fika menyempatkan diri ke salon untuk menghabiskan waktu. Fika sampai rumah sudah jam lima sore Fika mandi ulang dan berdanda, dia juga melihat hasil rambut yang dia kritingkan di salon, merasa sudah cantik Fika memilih baju yang ada di lemarinya tapi saat hendak memilih, kamar Fika tiba-tiba di kejutan nyanyian oleh Ayin dan Lyla, Fika memeluk mereka. Lyla dan Ayin meminta maaf karena sengaja menjauhi Fika, tapi Fika tidak peduli karena Fika merasa senang sahabat-sahabatnya ternyata tidak lupa. Ayin dan Lyla memberikan bingkisan kepada Fika saat hendak di buka, Fika senang karena tidak perlu bingung memilih gaun, saat di coba gaun berwarna ungu, sangat pas dan cocok sekali, lagi-lagi Fika memeluk dan berterimakasih kepada sahabat-sahabatnya.
Mereka bertiga pergi, Fika penasaran kemana akan di bawa, karena mata Fika di tutup oleh kain hitam. Setelah sampai di tujuan Fika membuka mata dan betapa terkejut saat melihat di sekelilingnya teman-teman berdiri sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Sebelum acara di mulai Ayin dan Lyla meminta agar Fika jangan bertanya dari mana mereka bisa menyewa gedung ini karena ini adalah sebuah kado istimewa. Fika menangis bahagia dan berterimakasih banyak atas semua kejutan yang dia dapatkan, ternyata tak hanya itu Fika juga di kejutkan saat melihat Syla ada di atas pangung dan menyanyikan lagu ulang tahun buat Fika. Fika merasakan bahagia yang sangat –sangat di rindukan selama ini dan berlari ke atas panggung sambil memeluk dan ikut bernyanyi bersama Syla.
Saat melihat jam di kamarnya Fika melihat jam masih menunjukan pukul satu siang, Fika menyempatkan diri mandi selama mungkin dan setelah selesai mandi dan siap-siap, Fika melihat masih jam tiga, Fika menyempatkan diri ke salon untuk menghabiskan waktu. Fika sampai rumah sudah jam lima sore Fika mandi ulang dan berdanda, dia juga melihat hasil rambut yang dia kritingkan di salon, merasa sudah cantik Fika memilih baju yang ada di lemarinya tapi saat hendak memilih, kamar Fika tiba-tiba di kejutan nyanyian oleh Ayin dan Lyla, Fika memeluk mereka. Lyla dan Ayin meminta maaf karena sengaja menjauhi Fika, tapi Fika tidak peduli karena Fika merasa senang sahabat-sahabatnya ternyata tidak lupa. Ayin dan Lyla memberikan bingkisan kepada Fika saat hendak di buka, Fika senang karena tidak perlu bingung memilih gaun, saat di coba gaun berwarna ungu, sangat pas dan cocok sekali, lagi-lagi Fika memeluk dan berterimakasih kepada sahabat-sahabatnya.
Mereka bertiga pergi, Fika penasaran kemana akan di bawa, karena mata Fika di tutup oleh kain hitam. Setelah sampai di tujuan Fika membuka mata dan betapa terkejut saat melihat di sekelilingnya teman-teman berdiri sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Sebelum acara di mulai Ayin dan Lyla meminta agar Fika jangan bertanya dari mana mereka bisa menyewa gedung ini karena ini adalah sebuah kado istimewa. Fika menangis bahagia dan berterimakasih banyak atas semua kejutan yang dia dapatkan, ternyata tak hanya itu Fika juga di kejutkan saat melihat Syla ada di atas pangung dan menyanyikan lagu ulang tahun buat Fika. Fika merasakan bahagia yang sangat –sangat di rindukan selama ini dan berlari ke atas panggung sambil memeluk dan ikut bernyanyi bersama Syla.
Malam itu mereka habiskan dengan senyum
kebahagiaan yang tidak akan terlupakan.
Selesai acara, Fika merasa seakan-akan bermimpi indah, tapi dia sadar bahwa ini adalah nyata. Saat hendak pulang Syla tiba-tiba mengatakan sayang pada sahabat-sahabatnya dan minta untuk jangan benci apalagi melupakan Syla saat tidak ada. Fika, Lyla dan Ayin sedikit kecewa atas ucapannya, Ayin mewakili jawaban itu”samapai kapanpun kita adalah sahabat,walaupun jarak terpisah itu hanya di mata tapi di hati, kita semua itu satu yang tidak bisa di pisahkan karena kita adalah saudara”Mendengar kata saudara mereka berpelukan seakan tidak ingin terpisah.
Malam itu Syla berencana menginap di rumah Fika karena orang tua Syla ada di rumah Fika, saat sampai di depan rumah Fika, Syla merasa badannya pusing ,lemas dan tiba-tiba tidak sadarkan diri. Orangtua Syla yang melihat anaknya pingsan langsung membawanya ke rumah sakit. Syla di bawa ke ruang Unit Gawat Darurat. Fika, Lyla dan Ayin bingung kenapa Syla bisa tiba-tiba mendadak pingsan dan lebih prihatin lagi harus di bawa ke UGD. Setelah di tangani dokter sekian lama dokter mengatakan kalau Syla tidak bisa di selamatkan lagi dan kanker otak yang di deritanya cukup ganas. Orangtuanya yang mendengar hal itu sanagat terpukul dan menagis mereka seudah tahu sebelumnya anak mereka terkena penyakit itu. Dia bertahan demi memberi kenangan terakhir kali buat sahabat-sahabatnya. Syla ke Jakarta pindah ternyata hanya untuk terapi meski tahu hasil terapi memungkinkan sedikit kesembuhannya, terapi itu dilakukannya untuk bisa samapai ke ulang tahun Fika untuk memberi kenangan terakhir kali buat sahabatnya. Mendengar pernyataan itu Fika menuju kamar tempat terakhir Syla di rawat, sungguh Fika tidak bisa menerima dengan kenyataan ini Lyla dan Ayin juga menangis karena mereka kehilangan sahabat yang sangat mereka kasihi. Mereka tahu ini bukan ke inginan Syla tapi ini ke hendak Tuhan karena yang mengatur hidup mati adalah Tuhan. Fika sadar percuma dia menangis kalau kenyataan Syla tidak akan kembali, mereka mengiklaskan kepergiaan Syla meski ini sangat menyakitkan bagi mereka .
Selesai sudah pemakaman, berat untuk meminggalkan tempat itu bagi Fika tapi Lyla dan Ayin memaksa Fika pergi dari tempat itu agar Fika tidak tambah terluka lagi atas kepergian Syla buat selamanya. Saat hendak ke bandara untuk ke kembali ke Lampung Orangtua Syla memberikan surat yang sudah lama sekali Syla buat yang berisi”Hidup dan mati kita itu rencana Tuhan, kita punya rencana tetapi rencana yang kita buat belum tentu sama apa yang Tuhan mau. Seperti penyakit aku, aku tidak mengehendaki tapi ini aku harus menerimanya dan menjalaninya. Kepergiaan aku ini jangan samapai membuat kalian bersedih dalam kelarutan, karena aku pergi kemauan Tuhan, karena Tuhan yang memanggil aku. Yang terpenting ingin aku samapaikan jangan pernah menyerah dalam hidup ini selagi merasa mampu dan sanggup lakukanlah semaksimal mungkin. Terimakasih banyak atas semua kenangan yang kalian berikan kepada aku selama ini. Dan maafkan kesalahan yang pernah aku lakukan ke kalian aku sangat menyanyangi kalian, kalian adalah saudara bagi aku.”Membaca itu Fika tersenyum dan berkata dalam hati “Aku sekarang mengerti arti hidup”
Selesai acara, Fika merasa seakan-akan bermimpi indah, tapi dia sadar bahwa ini adalah nyata. Saat hendak pulang Syla tiba-tiba mengatakan sayang pada sahabat-sahabatnya dan minta untuk jangan benci apalagi melupakan Syla saat tidak ada. Fika, Lyla dan Ayin sedikit kecewa atas ucapannya, Ayin mewakili jawaban itu”samapai kapanpun kita adalah sahabat,walaupun jarak terpisah itu hanya di mata tapi di hati, kita semua itu satu yang tidak bisa di pisahkan karena kita adalah saudara”Mendengar kata saudara mereka berpelukan seakan tidak ingin terpisah.
Malam itu Syla berencana menginap di rumah Fika karena orang tua Syla ada di rumah Fika, saat sampai di depan rumah Fika, Syla merasa badannya pusing ,lemas dan tiba-tiba tidak sadarkan diri. Orangtua Syla yang melihat anaknya pingsan langsung membawanya ke rumah sakit. Syla di bawa ke ruang Unit Gawat Darurat. Fika, Lyla dan Ayin bingung kenapa Syla bisa tiba-tiba mendadak pingsan dan lebih prihatin lagi harus di bawa ke UGD. Setelah di tangani dokter sekian lama dokter mengatakan kalau Syla tidak bisa di selamatkan lagi dan kanker otak yang di deritanya cukup ganas. Orangtuanya yang mendengar hal itu sanagat terpukul dan menagis mereka seudah tahu sebelumnya anak mereka terkena penyakit itu. Dia bertahan demi memberi kenangan terakhir kali buat sahabat-sahabatnya. Syla ke Jakarta pindah ternyata hanya untuk terapi meski tahu hasil terapi memungkinkan sedikit kesembuhannya, terapi itu dilakukannya untuk bisa samapai ke ulang tahun Fika untuk memberi kenangan terakhir kali buat sahabatnya. Mendengar pernyataan itu Fika menuju kamar tempat terakhir Syla di rawat, sungguh Fika tidak bisa menerima dengan kenyataan ini Lyla dan Ayin juga menangis karena mereka kehilangan sahabat yang sangat mereka kasihi. Mereka tahu ini bukan ke inginan Syla tapi ini ke hendak Tuhan karena yang mengatur hidup mati adalah Tuhan. Fika sadar percuma dia menangis kalau kenyataan Syla tidak akan kembali, mereka mengiklaskan kepergiaan Syla meski ini sangat menyakitkan bagi mereka .
Selesai sudah pemakaman, berat untuk meminggalkan tempat itu bagi Fika tapi Lyla dan Ayin memaksa Fika pergi dari tempat itu agar Fika tidak tambah terluka lagi atas kepergian Syla buat selamanya. Saat hendak ke bandara untuk ke kembali ke Lampung Orangtua Syla memberikan surat yang sudah lama sekali Syla buat yang berisi”Hidup dan mati kita itu rencana Tuhan, kita punya rencana tetapi rencana yang kita buat belum tentu sama apa yang Tuhan mau. Seperti penyakit aku, aku tidak mengehendaki tapi ini aku harus menerimanya dan menjalaninya. Kepergiaan aku ini jangan samapai membuat kalian bersedih dalam kelarutan, karena aku pergi kemauan Tuhan, karena Tuhan yang memanggil aku. Yang terpenting ingin aku samapaikan jangan pernah menyerah dalam hidup ini selagi merasa mampu dan sanggup lakukanlah semaksimal mungkin. Terimakasih banyak atas semua kenangan yang kalian berikan kepada aku selama ini. Dan maafkan kesalahan yang pernah aku lakukan ke kalian aku sangat menyanyangi kalian, kalian adalah saudara bagi aku.”Membaca itu Fika tersenyum dan berkata dalam hati “Aku sekarang mengerti arti hidup”
Satu bulan sudah kepergian Syla, Fika
sudah merasa lebih baikan begitupun dengan Lyla dan Ayin yang mengikhlaskan
penuh. Karena tidak ada lagi suasana duka yang menyeliputi lagi, mereka
melakukan aktifitas seperti biasa. Mereka punya hobi khusus setiap dua bulan
sekali yaitu bakti sosial yang kali ini
mereka lakukan di Bundaran Gajah, saat mereka hendak membagikan makanan mereka
melihat satu anak perempuan yang begitu mirip sekali dengan Syla saat
tersenyum, mereka menghampirin anak perempuan itu karena merasakan sebuah
perasaan yang berbeda. Saat ditanya nama anak perempuan itu melihat wajah
mereka sambil diam sebentar, anak itu tiba-tiba menjawab berbeda,”Kakak-kakak
ini pasti temannya kakak Sylakan, karena satu bulan yang lalu kakak Syla juga
pernah kesini dan membagikan sembako untuk kami, kakak Syla pernah cerita
memiliki tiga sahabat yang baik dan suka membagikan sembako-sembako, waktu itu
kakak Syla dari Jakarta datang ke sini sambil membawa foto, foto itu adalah
foto kakak-kakak semua. Tapi foto ini terjatuh dari tasnya saat kakak Syla
sedang membagikan makanan. Jadi saya berikan ke kakak-kakak ini, siapa tahu
kakak bisa mengembalikan ke kakak Syla.” Saat mendengar cerita dari anak
perempuan ini Fika langsung memeluk erat dan sangat erat sekali, dan Fika
mejawab”Terimakasih yah adik manis udah menjaga foto kakak Syla, tapi kakak
Syla sekarang sudah tidak ada lagi dan tidak bisa memberi kalian sembako lagi,
karena kakak Syla sudah meninggal.” Saat mendengar pernyataan tersebut anak
perempuan itu menjawab”Kak Syla datang kesini dengan wajah pucat dan memang
sempat pingsan, aku turutberduka cita atas kepergian kakak Syla, aku sayang
kakak Syla walaupun udah tidak ada dan tidak bisa berkumpul bersama-sama kami,
dan kami tidak akan lupakan kebaikan kakak Syla.” Mendengar hal tersebut Fika
tersenyum hangat dan mencium kening anak itu.
Setelah selesai membagikan sembako Fika
dan sahabat-sahabatnya pulang kerumah, mereka sangat lelah karena seharian
penuh membagikan sembako. Sesampainya di rumah, Fika tersenyum mengingat kejadiaan
tadi. Fika sadar walaupun kita sudah tidak ada ternyata kebaikan kita yang
pernah kita lakukan di dunia ini bisa jadi memori terindah yang tidak pernah
terlupakan. Fika di dalam hati berkata”Terimakasih kak Syla telah mengajarkanku
banyak hal, karena perbuatan baik kak Syla, ternyata membekas di hati
orang-orang yang telah di tinggal oleh kak Syla, I love you my best sister”
Kini Fika lulus SMA, sekarang Fika kuliah
di Bandung dan mengambil falkultas kedokteran yang cukup favorit di Bandung,
kini Fika tidak lagi bersama sahabatnya karena harus mengejar cita-citanya,
sementara Lyla kuliah di Lampung dan Ayin masih SMA. Fika kini memiki teman
laki-laki yang kini sangat dekat dengan dirinya, namanya adalah Reynaldo yang
akrab di panggil Aldo. Mereka sama-sama satu tempat Universitas tetapi beda falkultas, Aldo sangat
perhatian sekali dengan Fika tetapi Fika biasa saja karena menganggapnya
sebagai sahabat. Fika sendiri sudah memiliki pacar yang bernama Martin di
Bandung, tetapi semenjak Fika menjalin hubungan dengan Martin, Aldo selalu saja
mendatangkan masalah agar Fika dan Martin tidak bisa jalan bareng. Karena Aldo
tidak suka Martin dekat dengan Fika maka Aldo selalu saja membuat cara agar
hubungan Fika dan Martin renggang dan sampai suatu ketika Aldo berhasil
menghancurkan hubungan mereka. Aldo sengaja mengadu dombakan mereka hingga
hilang kepercayaan Fika dan Martin.
Kini Aldo telah memikat hati Fika,
sehingga Fika selalu tidak bisa lepas dari Aldo kemana-mana selalu Aldo yang
menemani padahal Fika juga memiliki sahabat yang bernama Rara, Rere dan Gege di
sana. Rara, Rere dan Gege sangat tidak suka dengan Aldo apalagi Aldolah
penyebab hubungan Fika dan Martin berantakan. Mereka bertiga sepakat untuk
menemui Martin, saat sampai di rumah Martin, Martin sudah bersiap-siap untuk
pergi ke bandara, Martin ternyata melanjutkan kuliahnya di USA, sebelum masuk
mobil, mereka menghalang Martin dan meminta waktu kepadanya. Gege mewakili
percakapan teman-temannya”Tin,mau kemana kok bawa koper segala, padahal kita di
sini untuk memperbaiki hubungan lo sama Fika, kasihan tahu semejak lo bubar
sama Fika, Fika jadi orang yang pendiam, dan sekarang dia jauh sama kita-kita,
asal lo tahu juga kita juga gak setuju banget kalau Fika itu dekat sama Aldo,
karena Aldo ngekak dia mulu, Lo ga kasihan tah sama Fika? dan lo percaya kalo
Fika berhianat sama lo? lokan tahu kalo Fika anak baik-baik dan bukannya lo
satu Gereja sama dia dan pasti tahulah dia orangnya seperti apa. Martin
mendengarkan dengan serius dan menjawabnya”gua mau ke USA mau lanjutin kuliah
di sana, sekalian mau move on tadinya, karena perkataan lo tadi buat gua sadar,
gua kemakan omongan si Aldo, dan gua ga peka ternyata Aldo yang jelek-jelekin
Fika ternyata dia yang pacaran sama Fika. Tapi gua harus ke USA karena itulah
impian gua bisa kuliah disana”Rarapun ikut bertanya”Fika tahu ga kalo lo hari
ini mau ke USA untuk kuliah”Nggak dia ga tahu kalau gua mau ke sana semenjak
putus sama dia gua ga pernah kontak-kontakan lagi, jujur gua masih sayang
banget sama dia karena dialah dulu gua jadi semangat tapi gua terlanjur benci
saat Aldo bilang Fika berhianat”kata si Martin. Rere yang mendengarkan tadi
langsung saja menyuruh Martin telepon Fika, saat di telpon suasana hati Martin
sangat kacau apalagi saat di hubungi telepon Fika tidak aktif. Rara, Rere dan
Gege ikut di dalam mobil Martin untuk mengantarkan Martin ke Bandara, mereka
sibuk bagaimana supaya Fika datang ke Bandara.
Rere memiliki ide, menelpon Aldo dan saat
itu juga Aldo mengangkatnya, Aldo lagi bersama Fika di Mall, Rere menyuruh
memberi handphonenya ke Fika, Fika menerimanya. Saat itu juga Fika mendadak
kaget karena info yang di dapatkannya. Aldo yang bingung dengan sikap Fika yang
tiba-tiba berubah dan Aldo ingin bertanya, tetapi Fika buru-buru pergi
meninggalkan Aldo. Aldo sangat marah karena meninggalkan tanpa alasan yang
jelas dan Aldo hendak menelepon Fika
tapi dia tahu handphone Fika lowbat.
Aldo memutuskan untuk pulang.
Fika yang buru-buru akhirnya sampai di
Bandara dan menuju tempat janjian yang Rere minta, Setelah sampai di tempat
janjian itu Fika melihat Martin, Fika langsung memeluk Martin tanpa
memperdulikan yang lain, rasa kangen menyelimuti hati Fika, nyaman yang hilang
dulu mendadak datang di hati Fika begitupun dengan Martin. Fika yang menatatap
Martin mengatakan sesuatu” Kenapa kamu tinggalin aku? kenapa kamu ga kasih tahu
aku kalau kamu mau pergi? apa kamu begitu bencinya sama aku?”Martin yang tidak
tahan ingin mengatakan sesuatu juga akhirnya menjawab”Aku sayang dan cinta sama
kamu, karena kamu hidup aku menjadi berarti dan semangat, aku yang bodoh karena
aku mendengarkan Aldo, kamu masih mau jadi pacar aku dan menunggu lima tahun
lagi, aku akan datang pas di hari ulangtahun kamu?”Aku akan menunggu kamu lima
tahun dan aku akan tunggu janjimu lagi karena aku sayang dan cinta sama kamu
aku ga mau kita pisah walaupun kita jauh tapi hati aku cuma untuk kamu Martin.
Dan maafin aku, karena aku memilih Aldo juga.”sahut Fika. Sahabat-sahabat Fika
yang melihatnya terharu dan mereka berpelukan berlima dan mengucapkan selama
tinggal buat Martin.
Aldo dan Fika janjian di tempat biasa
mereka bertemu, yaitu belakang kamus mereka, disana Fika sudah mempersiapkan
kalimat-kalimat yang akan Fika katakan ke Aldo. Saat Aldo datang menghampiri
Fika bukanlah tujuan utama yang ingin Fika katakan tetapi amarah Aldo yang di
dapatkan, tetapi Fika hanya diam saja menunggu sampai Aldo berhenti, saat itu
juga Fika langsung mengatakan putus ke Aldo dan pergi meninggalkan Aldo. Aldo
kaget dan tidak bisa terima dengan perkataan yang Fika ucapkan kepadanya, Aldo berlari
mengejar Fika meminta maaf tetapi Fika tetap berjalan dan tak menghiraukannya.
Setiap tahun Fika tak sabar menunggu Martin, dan
kini lima tahun sudah sekarang Fika menunggu Martin dani tiba di hari ulang
tahunnya, rasa cemas datang karena Martin tak kunjung datang,
sahabat-sahabatnya pun ikut menunggu, Aldo yang dulu kini juga telah berubah,
kini Aldo berpacaran dengan Gege, dulunya Gege benci sekali dengan Aldo kini mereka
berubah menjadi cinta. Jam sebelas malam sudah Fika menunggu dan Fika sudah
tidak tahan ingin pulang karana Fika pikir Martin mengikari janjinya tapi tak
lama kemudian Martin datang bersama keluarganya dan keluarga Fika dan yang
membuatnya terkejut lagi Lyla dan Ayin pun datang untuk merayakan ulang tahun
Fika. Keluarga Martin, keluarga Fika, Lyla dan Ayin mereka terlihat kompak
sekali dan sengaja memberi kejutan sepesial buat Fika. Rasa haru dan dan air mata
tak kuasa Fika menahan, Fika benar-benar merasa hidup ini terasa indah bisa
berkumpul bersama orang- orang yang di sayanginya walau Fika harus membayarnya
dengan bersabar menunggu lama, tetapi ternyata hasil yang Fika peroleh adalah
kejutan istimewa yang tak pernah terbayangkan olehnya. Fika bersyukur sekali
kepada Tuhan, karena masih dapat merasakan kebersamaan yang dulu sempat
menghilang. Lyla dan Ayin yang lama sekali tak pernah ketemu memeluk Fika,
Rere, Rara, dan Gege yang melihatnya ikut memeluknya. Suasana begitu hangat dan
bahagia sekali. Mereka merayakan ulangtahun Fika di café yang teryata sudah di
pesan jauh-jauh hari oleh sahabat-sahabatnya, mereka semua merayakan ulang
tahun Fika dengan meriah dan memberi kejutan-kejutan yang Fika sama sekali
tidak tahu. Martin memegang tangan Fika dan menaruh cincin di tangan Fika
sebagai keseriusan cinta Martin. Fika hanya dapat membalas itu semua dengan
terimakasih dan dan senyuman yang sangat terindah untuk Martin dan sahabat-sahabatnya
yang melihat. Fika dan Martin pun kini menjalin hubungan dengan baik dan sekarang
tidak ada jarak jauh lagi karena mereka sudah lulus kuliah.